TRANSFORMATOR
Modul ini berisikan tentang : kunstruksi bagian, bagian , prinsip kerja & pemakaian tranformator pada industri.
Tujuan setelah mempelajari modul ini diharapkan dapat menjelaskan dan dapat Memahami kunstruksi bagian bagian , prinsip kerja tranformator.
PRINSIP DASAR
Secara prinsip transformator difungsikan untuk memindahkan daya listrik dari suatu rangkaian ke rangkaian lain, secara pisik transformator merupakan perangkat satis yang terdiri dari dua buah lilitan ( coil ) yang salin terhubung dengan mengunakan copling elektromagnet. Penggunaan tranformator yang sangat mendasar meliputi , pengaturan tegangan maupun arus pada system ketenagaan,
sebagai penyetara impedansi antara sumber dan beban guna memdapatkan pengiriman daya yang maximum pada rangkaian elektronik,
dan sebagai isolasi secara listrik (pengaman),
Untuk meminimumkan kebocoran fluk maknit yang ada, kedua lilitan tersebut dipasang sedekat mungkin, masing-masing lilitan disebut primer dan sekunder (lihat gambar 1).
Gambar1
Suatu tegangan AC sebesar Vp diberikan pada sisi primer akan menghasilkan medan maknit fluk F pada inti besi, jika dianggap tidak terjadi kebocoran fluk maka fluk F akan mengalir pula pada belitan sekunder, sehingga tegangan yang terinduksi (EMF) pada sebuah lilitan dari masing-masing belitan sama besarnya.
Tegangan terinduksi pada primer (EMFp)
Tegangan terinduksi pada sekunder (EMFs)
Pada kondisi tanpa beban arus yang diperlukan sangat kecil sehingga EMF yang terbangkit pada sisi primer akan sama dengan tegangan input demikian pula pada sisi sekunder sehingga
V1 = N1
V2 = N2
Pada trafo yang ideal kerugian daya sangat kecil sehingga daya out put sama dengan daya input
V1.I1. cos Fp = V2.I2. cos Fs
Power faktor pada sisi primer sebanding dengan power faktor sekunder sehingga
V1.I1. = V2.I2. dan
Jika beban dipasang pada sisi sekunder, arus Is akan mengalir pada lilitan sekunder sehingga menimbulkan pertambahan fluk F2, fluk F2 ini akan memperkecil fluk utama, sedang pada sisi primer tegangan input yang diberikan tetap besarnya, karena itu arus pada sisi primer Ip menghasilkan fluk F1 sebesar F2 dengan arah berlawanan sehingga dengan berubahnya beban F1 dan F2 salung menghilangkan, dengan demikian medan maknit yang timbul (fluk F) akan tetap walau terjadi perubahan beban.
Kontruksi Tranformator.
Suatu tranformator dibentuk dari penghantar yang dililitkan pada ini besi seperti terlihat pada gambar dibawah.
Belitan.
Untuk meminimalkan terjadinya kebocoran medan maknit, masing masing belitan (belitan primair dan secundair) dipasang sedekat mungkin, peletakan lilitan ini bisa dipasang secara berlapis, atau disusun secara bersusun seperti (pada gambar2)
Gambar 2
Inti besi ( Iron Core )
Pada tranformator satu phasa type inti yang umum digunakan berupa rangkaian maknit tunggal dengan dua lengan atau rangkaian maknit dengan tiga lengan dengan belitan diletakkan ditengah atau diletakkan pada masing masing lengan ( gambar 3 )
Gambar 3.
TRAFO TANPA BEBAN
Pada trafo yang ideal dimana tidak terjadi suatu kerugian , maka dapat digambarkan seperti pada gambar 4.
Gambar 4
Vp = tegangan input primair
Vs = tegangan sekundair
Ep = g.g.l pada sisi primair
Es = g.g.l pada sisi sekundair
Np = jumlah lilitan sisi primair
Ns = jumlah lilitan sisi sekundair
Tegangan suppy Vp akan menghasilkan arus maknitisasi Im yang menghasilkan medan maknit F yang tertinggal 90° terhadap tegangan suppy Vp, karena medan maknit F menginduksikan e.m.f pada sisi primair mendahului medan maknit F 90° maka tegangan yang dihasilkan menjadi sephasa dengan tegangan input demikian juga tegangan induksi yang dihasilkan pada sisi secundair. Perbandingan tegangan induksi pada sisi primair dengan sisi sekundair Ep/Es tergantung perbandingan jumlah lilitan dari masing masing sisi Np/Ns.
Dalam kenyataannya arus maknetisasi Im tidak sama dengan nol tetapi mempunyai besaran tertentu dan terletak 90° rettinggal terhadap tegangan input. Arus ini menghasilkan flux f, kerena flux f selalu mengalami perubahan maka mengakibatkan terjadinya arus eddy dan rugi histeresis pada inti yang mengakibatkan terjadinya panas, dan rugi daya ini dapat dinyatakan dengan besar arus Iw yang sephasa terhadap tegangan Vp, sehingga pada kondisi tanpa beban tranformator memerlukan arus Io yang merupakan penjumlahan dari arus maknitisasi Im dengan Iw. Karena Im tertinggal 90° terhadap tegangan maka dapat dinyatakan sebagai arus yang mengalir melalui inductor Lo , sedang Iw sepahasa dengan tegangan maka dapat dinyakan seperti arus yang melalui beban yang berupa resistor Ro, dan Lo dengan Ro dapat digambarkan sebagai dua komponen yang dipasang parallel yang mengakibatkan terjadinya aliran arus Io yang diambil dari sumber ( seperti pada gambar 5)
Rangkaian tranformator tanpa beban
Gambar 5
Vektor arus & tegangan tranformator tanpa beban
Gambar 5b
TRAFO ber BEBAN
Seperti telah dijelaskan didepan perubahan arus akibat perubahan beban tidak membawa perubahan medan maknit atau dapat dikatakan arus Io tetap dalam kondisi tanpa beban maupun berbeban , besar fluk tetap konstan sehingga rangkaian equivalen dari transformator tersebut dapat digambar sepeti pada gambar 6.
Gambar6
Rangkaian tranformator tanpa beban
Arus beban pada sisi secundair Is mengakibatkan terjadinya penambahan arus Is¢ pada sisi primair, pada trafo idial besar Is¢ = Is . ( Ns/Np), sehingan arus pada sisi primair merupakan penjumlahan Io dengan Is¢.
Pembebanan pada sisi secundair mempengaruhi arus pada sisi primair , demikian juga beda phasa yang terjadi, sedang beda phasa pada sisi secundair sangat ditentukan oleh sifat beban yang disuppy oleh trafo tersebut.( lihat gambar 7)
beban resistif ( tegangan & arus sephasa)
beban induktif ( arus tertinggal terhadap tegangan )
beban Capasitif ( Tegangan tertinggal terhadap arus)
Gambar 7
pengaruh jenis beban pada tranformator
IMPEDANSI PADA TRAFO
Mengingat masing-masing sisi ( perimair & secundair ) pada transformator terdiri dari penghantar yang dililitkan maka masing masing sisi mempunyai tahanan kawat (tembaga) sehingga pada sisi primer trafo dapat diumpamakan adanya tahanan kawat Rp demikian juga pada sisi sekunder ada tahanan kawat (tembaga) Rs , sedang tegangan yang digunakan sebagai input pada trafo selalu mengalami perubahan palaritas dan juga besar, maka pada masing masing sisi ( perimair & secundair ) juga menbentuk induktansi kawat ,pada sisi primer induktansi yang terbangkit Xp dan induktansi kawat sisi sekunder Xs sehingga rangkaian equivalen dari transformatordapat disempurnakan seperti pada gambar 8.
Gambar8
Rangkaian eqivalen tranformator
Dari gambar 8 terlihat bahwa
Impedansi primer
Impedansi sekunder
Untuk tujuan pengukuran maupun perhitungan, pengamatan impedansi dari trafo ini lebih berkenan dipandang dari salah satu sisi baik dari primer atau sekunder, sehingga masing-masing besaran tersebut perlu di transfer ke salah satu sisi yang dikehendaki.
Misalkan bila diinginkan pengamatan impedansi dari sisi secundair seperti terlihat pada gambar 9
Gambar9
Rangkaian eqivalen tranformator bila dilihat dari sisi sekunder
Pada gambar 9 diperlihatkan rangkaian eqivalen tranformator dilihat dari sisi sekunder, dalam hal ini tahanan tembaga sisi primair ( ) dipindahkan kesisi secundair demikian juga induktansi kawat sisi secundair ( ), dengan pemindahan besara ke sisi sekundair ini mengakibatkan terjadinya perubahan besaran dari menjadi dimana = dan
menjadi dimana = sehingga tahanan eqivalen di sisi secundair dapat dinyatakan dengan sedang induktansi eqivalen di sisi secundair dan inpedansi eqivalen di sisi secundair
Gambar 10
Rangkaian eqivalen tranformator bila dilihat dari sisi primair
Pada gambar 10 diperlihatkan rangkaian eqivalen tranformator dilihat dari sisi primair, dalam hal ini tahanan tembaga sisi sekundair ( ) dipindahkan kesisi primair demikian juga induktansi kawat sisi secundair ( ), dengan pemindahan besaran ke sisi primair ini mengakibatkan terjadinya perubahan besaran dari menjadi dimana = dan
menjadi dimana = dengan demikian besar impedansi eqivalen dilihat dari sisi primair dan tahanan eqivalen di sisi primair dapat dinyatakan dengan sedang induktansi eqivalen di sisi primair
Contoh Soal
Suatu tranformator satu phasa dengan tegangan kerja 220V/24V mempunyai resistansi tembaga pada sisi primair 0,5W induktansi pada lilitan primair 2,5W sedang pada sisi secundair mempunyai resistansi tembaga 0,03W induktansi lilitan secundair 0,15W, berapa impedansi equivalent travo bila dilihat dari sisi primair maupun sisi secundair.
Penyelesaian:
Dilihat dari sisi primair
Dilihat dari sisi secundair
REGULASI TEGANGAN
Regulasi tegangan didevinisikan sebagai besar perbedaan tegangan secundair saat tanpa beban Es dengan tegangan saat berbeban Vs, sehingga regulasi dapat dinyatakan dengan persamaan = Es – Vs yang biasanya dinyatakan dalam bentuk pecahan atau persen.
Regulasi dalam bentuk pecahan =
Regulasi dalam persentase =
Untuk menghitung regulasi ini digunakan rangkaian eqivalen tranformator dilihat dari sisi sekunder, pada gambar 11 diperlihatkan gambar vector tegangan dan arus pada sisi secundair tranformator bila trafo tersebut dibebani dengan beban sersifat induktif.
Gambar 11
dari gambar 11 dapat dihitung besar selisih
Regulasi =
Contoh soal:
Suatu tranformator satu phasa dengan tegangan kerja 220V/24V mempunyai resistansi tembaga pada sisi primair 0,5W induktansi pada lilitan primair 2,5W sedang pada sisi secundair mempunyai resistansi tembaga 0,03W induktansi lilitan secundair 0,15W, Jika trafo berkapasitas 2,4 Kwatt.saat dibebanai dengan beban penuh dan bersifat induktuf dengan Cos f beban 0.8 , tentukan regulasi dari trafo tersebut.
Penyelesaian:
Besar arus pada sisi secundair
Regulasi =
Regulasi
RUGI-RUGI PADA TRAFO
Pada transformator tidak terdapat bagian yang bergerak, sehingga tidak ada rugi akibat gesekan atau rugi pada celah, rugi yang terjadi pada transformator meliputi :
· Rugi besi atau rugi inti ( Pi ), rugi ini tidak mengalami perubahan (tetap) hal ini dikarenakan fluk yang terjadi selalu tetap walaupun beban mengalami perubahan.
· Rugi tembaga ( Pcu ), rugi ini diakibatkan oleh mengalirnya arus melalui tahanan belitan yang diberi notasi
Pcu = Ip2. Rp + Is2 . Rs
Pcu = Is2. Res
Pcu = (Is2. Rs) + ( Ip. . Rp)
EFFICIENCY ( h ) PADA TRAFO
Eficiency
Daya Input = P = Vp. Ip. Cos F watt
Daya Ouput = P = Vs. Is. Cos F watt
Rugi tembaga total = Pcu = Is2. ( Rs + Rp )
Pcu = Is2 . Res
Rugi tembaga berbanding lurus terhadap Is2 sehinga bila penentuan rugi tembaga diambil dalam kondisi beban penuh maka perlu dibuat suatu penyesuaina bila dilakukan perubahan beban yang besarnya tidak sama dengan beban penuh.
Rugi tembaga saat beban penuh
Rugi tembaga saat beban penuh
Rugi tembaga saat beban penuh
Rugi tembaga saat beban penuh
Rugi Inti = Pi
Total rugi daya = Pi + Pcu = Pi + Is2. Res
Jadi daya input = Daya output + Total rugi daya = P + Pi + Pcu
Contoh soal:
Trafo satu phasa dengan daya 100KVA dengan tegangan kerja 20000/380V, mempunyai rugi besi 900watt, dan saat tes hubung singkat didapat diketahui besar resistansi equivalen pada sisi secundair 0,02W. Hitung efisiensi dari tranformator bila digunakan untuk mensupply beban
(a) beban penuh dengan beban bersifat resistif ( tegangan dan arus secundar sephasa)
(b) Setengah beban penuh dengan beban bersifat resistif.
(c) Beban penuh dengan beban bersifat induktif ( Cosf 0,8 tertinggal)
(d) Setengah beban penuh dengan beban bersifat induktif ( Cosf 0,8 tertinggal)
Penyelesaian
Arus saat beban penuh
Rugi tembaga saat beban penuh
Rugi besi
Saat Beban penuh dengan beban bersifat resistif
Daya output
Rugi daya saat beban penuh =
Saat setengah beban penuh dengan beban bersifat resistif
Daya output
Rugi tembaga saat
Rugi daya saat setengah beban penuh =
Saat beban penuh dengan beban bersifat induktif ( Cosf 0,8 tertinggal)
Daya output
Rugi daya saat beban penuh =
Saat setengah beban penuh dengan beban bersifat induktif ( Cosf 0,8 tertinggal)
Daya output
Rugi tembaga saat
Rugi daya saat setengah beban penuh =
PENGUJIAN TRANFORMATOR
Untuk mengetahui efisiensi dari tranformator dapat dilakukan dengan melakukan pengukuran tegangan , arus, daya secara langsung pada sisi input dan out put, tetapi cara ini hanya dapat dilakukan pada trafo- trafo dengan daya kecil dan cara ini tidak tepat digunakan pada trafo dengan daya besar, oleh karena itu untuk mengetauhi efisiensi trafo dilakukan dengan cara menghitungnya. Untuk itu perlu adanya pengamatan yang bertujuan untuk mendapatkan besaran besaran yang mempengaruhi efisiensi tersebut, untuk mendapatkan besaran besaran ini perlu adanya pengujian trafo dalam kondis tanpa beban dan pengujian hubung singkat.
PENGUJIAN TRANFORMATOR TANPA BEBAN
Pengujian tranformator tanpa beban ditujukan untuk mengetahui besar rugi besi Pi dari trafo, sedang besar arus pada kondisi tanpa beban Io ini merupakan arus yang digunakan untuk maknetisasi dan arus rugi inti dengan diketahuinya rugi inti (Pi) maka dapat dihitung besaran Ro dan Xo , pada gambar 12 merupakan gambar rangkaian pengujian tranformator tanpa beban.
Gambar 12
Rangkaian penguji tranformator tranformator tanpa beban
Power factor pada kondisi tanpa beban
Besar arus Im = Io. Sinq
Dan arus Iw = Io. Cosq
Ro
PENGUJIAN HUBUNG SINGKAT TRANFORMATOR
Pengujian hubung singkat tranformator ini ditujukan untuk mencari besar induktansi equivalent maupun resistansi equivalent serta menentukan impedansi equivalent dari tranformator pada pengujian ini bagian secundair dari transformer dihubung singkat, sedang alat ukur dipasang pada sisi primair ( seperti pada gambar 13 ), pada pengukuran ini tegangan pada sisi secundadair yang dihubung singkat sama dengan nol , sedang tegangan yang diberikan pada sisi primair diatur agar arus Ip tidak melebihi arus nominal tranformator.
Berdasar data tegangan , arus dan daya, maka dapat dihitung impedansi equivalent pada sisi primair, resistansi equivalent pada sisi primair dan induktansi equivalent dari sisi primair.
Gambar 13
Rangkaian penguji tranformator hubung singkat
Impedansi equivalent pada sisi primair ,
Pembacaan watt meter menyatakan rugi tembaga =
Sehinga resistansi equivalent pada sisi primair
dan induktansi equivalent dari sisi primair.
AUTO TRANFORMER
Autotranformer adalah trafo yang mana lilitan primair dan secundairnya berupa satu lilitan ( lilitan Primair dan secundair tersambung secara listrik ) Auto tranformator seolah bertindak sebagai voltage devider, perbedaan besar tegangan primair dan secundair hanya dipengaruhi letak posisi terminal yang disambungkan pada kumparan seperti terlihat pada gambar14
Auto tranformator step down Auto tranformator step up
Gambar 14
Tegangan pada sisi secundair ditentukan oleh jumlah perbandingan lilitan dengan mengabaikan rugi rugi dan power factor.
Daya input = Daya output, V1.I1. = V2.I2. jika perubahan tegangan antara tegangan V1 dan V2 tidak terlalu besar (kecil) hal ini mengakibatkan perbedaan besar arus antara I1 dan I2 tidak terlalu besar sehingga arus yang melalui terminal B-C juga kecil.
Contoh soal:
Autotrafo satu phasa dengan daya 500VA dengan tegangan kerja 220/120V, bila digunakan untuk mensupply
a. beban bersifat resistif dengan beban penuh .
beban bersifat resistif dengan beban Setengah penuh.
( tentukan arus yang mengalir pada masing masing kumparan)
Penyelesaian
Arus saat beban penuh
arus yang melalui lilitan B-C =
Arus saat setengah beban penuh
arus yang melalui lilitan B-C =
TRAFO INTRUMEN
Pada rangkai dengan sumber tegangan AC ,peralatan pengukur tidak selalu dihubungkan secara langsung pada rangkaian, tetapi pengukuran dapat dilakukan dengan menggunakan trafo intrumen, khususnya pada pengukuran tegangan tinggi dan pada pengukuran dengan arus yang besar, pada sisi primair merupakan sisi tegangan atau arus yang akan diukur, sedang sisi secundair dipasang pada intrumen pengukur sehingga besaran yang terukur merupakan tegangan atau arus yang kecil yang sebanding dengan besaran pada rangkaian utama .
Ada beberapa keuntungan dari penggunaan trafo intrumen diantaranya:
a. bagian lilitan secundair bertegangan rendah, sehingga memudahkan pengisolasian dari intrumen pengukur.
b. Salah satu sisi secundair selalu diketanahkan , sehingga rangkaian pada sisi secundair selalu dalam kondisi tegangan rendah walaupun digunakan pada pengukuran tegangan tinggi.
c. Trafo juga berfunggi sebagai isolasi alat ukur terhadap rangkaian utama.
d. Peralatan pengukur dapat disambungkan pada trafo dengan penghantar yang panjang dan dapat diletakkan pada lokasi penbacaan yang diinginkan.
e. Tegangan dan arus secundair dapat di standarkan sehingga mempermudah penggantian alat ukur.
TRAFO TEGANGAN (VOLTAGE TRANFORMER / V T, PT )
Trafo ini mempunyai kontruksi yang sama dengan trafo daya dan trafo ini mempunyai rugi inti yang kecil, bagian secundair trafo ini dapat dihubungkan dengan volt meter, kumparan tegangan pada watt meter atau energi meter atau dapat dihubungkan ke relay atau alat pendeteksi yang lain sesuai dengan kebutuhan. Pemasangan trafo ini parallel denangan tegangan rangkaian tanf diukur/ diamati, arus yang digunakan cukup kecil, sedang tegangan sekundair dibuat standar 110V, untuk menyatakan pembacaan pada rangkaian , pembacaan skala 110 V pada alat ukur harus dikalikan dengan perbandingan trafo .Gambar 15 merupakan gambar penyambungan trafo tegangan.
Gambar 15
Pemasangan trafo tegangan
TRAFO ARUS (CURRENT TRANFORMER / C T )
Secara kontruksi jumlah lilitan primair ( N1 ) trafo arus terdiri hanya beberala lilit (sedikit ) dan pemasangan sisi primair dilakukan secara serie dengan beban dari rangkaian utama yang diukur, sehingga rugi tegangan yang terjadi juga kecil, lilitan secundair trafo ini berjumlah sangat banyak dan dihubungkan pada amper meter kumparan arus pada watt meter atau energi meter atau dapat dihubungkan ke relay arus atau alat pendeteksi yang pada prinsipnya mempunyai impedansi yang kecil sehingga seakan dihubung singkat pada sisi sekundair trafo sehingga tegangan secundair trafo cukup kecil. Arus secundair trafo dibuat standard pada 1 A atau 5 A, pada gambar 16 diperlihatkan gambar penyambungan trafo arus
Gambar 16, Trafo arus
Burden adalah istilah yang digunakan untuk menyatakan daya dari trafo intrumen dan dinyatakan dalam V A.
Standard burden pada trafo arus adalah 2,5 ; 5 ; 7,5 ; 15 ; 30 ; dan 50 VA
Standard burden pada trafo tegangan adalah 10 ; 15 ; 50 ; 100 dan 500 VA
Contoh soal
Trafo arus dengan burden 15 VA dan skala arus secundair 5 A maka tegangan secundair 3V , sehingga impedansi rangkaian pada sisi secundair yang diijinkan impedansi ini termasuk panjang penghantar yang digunakan sampai alat ukur..
TRAFO TIGA PHASA
Mengingat banyaknya system tegangan AC tiga phasa yang digunakan pada pengiriman maupun pendistribusian tenaga listrik maka pengetahuan tentang tranformator tiga phasa sangat diperlukan.
Tranformator tiga phasa dapat dibentuk dari susunan tiga buah trafo satu phasa dimana masing masing lilitan mewakili masing- masing phasa . Flux yang dihasilkan oleh tegangan primair juga berhubungan dengan lilitan pada sisi secundair, emf yang dihasilkan berbanding lurus dengan perbandingan lilitan demikian juga phasa pada sisi secundair juga behubungan dengan phasa pada sisi primair, perbedaan antar phasa pada masing – masing sisi lilitan primair sebesar 120° demikian juga pada sisi sekundair. Tranformator tiga phasa juga dapat dibentuk dari lilitan yang dipasang pada inti yang membentuk tiga buah rangkaian magnit ( gambar 17 )
Gambar 17
Penandaaan pada terminal Transformer
Untuk menyatakan sisi tegangan tinggi pada tranformator diberi tanda dengan menggunakan huruf besar A, B, C sedang untuk sisi tegangan rendah diberi tanda dengan huruf kecil a, b, c, sedang untuk menyatakan polaritas dari masing masing sisi dinyatakan dengan angka 1 ,2 , yang diletakkan pada akhir huruf seperti pada (gambar18)
Penandaan terminal Transformator (Gambar 18 )
Penyambungan terminal pada trafo tiga phasa.
Ada beberapa macam cara penyambungan pada trafo tiga phasa, penyambungan tersebut diantaranya penyambungan secara bintang- bintang , delta – delta, bintang-delta, delta – bintang.
Penyambungan bintang- bintang ( Star/Star)
Penyambungan secara bintang- bintang dilakukan dengan cara menghubungkan masing masing lilitan yang mempunyai akiran dengan penandaan 1 seperti pada gambar 19a, sedang untuk gambar vektornya diperlihatkan pada gambar 19b.sedang pada gambar 19c untuk lilitan sisi secundair dari tranformator dengan penandaan akiran 2 dihubungkan menjadi titik nol ( n ) sehingga tegangan secundair mempunyai beda phasa sebesar
Hubungan (gambar 19a)
Gambar vektor hubungan (gambar 19b)
Hubungan (Gambar 19c)
Gambar Vektor hubungan (Gambar 19d)
Penyambungan delta – delta ( )
Penyambungan secara delta – delta dilakukan dengan cara menghubungkan masing masing lilitan yang mempunyai akiran dengan penandaan 1 disambungkan pada lilitan yang lain dengan penandaan 2 , terminal , , dan pada sisi secundair , , seperti pada gambar 20a penyambungan delta – delta 0 ( ) tetapi bila belitan sisi secundair , , yang dihubungkan seperti pada gambar 20c maka penyambungan delta – delta 6( )
Penyambungan delta – delta ( ) Gambar 20a
Vektor delta – delta ( ) Gambar 20b
Penyambungan delta – delta ( ) Gambar 20c
Vektor delta – delta ( ) Gambar 20d
Penyambungan Bintang – delta ( )
Penyambungan secara bintang – delta dilakukan dengan cara menghubungkan lilitan sisi primair yang mempunyai akiran dengan penandaan 1 sedang pada sisi secundair lilitan dengan penandaan 1 disambungkan dengan lilitan yang ber penandaan 2 ,
Gambar 21
Penyambungan bintang – delta ( )gambar 21a
vektor bintang –delta ( )gambar 21b
Penyambungan bintang – delta ( )gambar 21c
Vektor bintang – delta ( )gambar 21d
terminal , , dan pada sisi secundair , , seperti pada gambar 20a penyambungan delta – delta 0 ( ) tetapi bila belitan sisi secundair , , yang dihubungkan seperti pada gambar 20c maka penyambungan delta – delta 6( )
Lilitan primair maupun sekundair keduanya dapat dihubungkan secara bintang atau segitiga, seperti terlihat pada gambar17b sisi primair trafo dihubung bintang dan sisi secundair dihubung segitiga, pada gambar rangkaian diperlihatkan masing masing lilitan phasa dipisahkan berbeda 120°.
Vp merupakan tegangan line pada sisi primair sedang Vs juga merupakan tegangan line pada sisi secundair. Sisi primair dihubung bintang maka besar tegangan phasa pada sisi primairVphp = Vp/1,73, karena sisi sekundair dihubung segitiga maka tegangan phasa pada sisi secundair sama dengan tegangan line Vps = Vs.
Gambar17
Contoh soal:
Trafo t1ga phasa hubungan segitiga bintang dengan tegangan kerja 20000/380V, memerlukan arus line pada sisi secundair sebesar 800A jika trafo tersebut disupply dari trafo lain dengan tegangan kerja 70KV/20KV yang terhubung bintang bintang tentukan arus dan tegangan line maupun phasa pada masing masing trafo.
Penyelesaian:
Rabu, 12 September 2007
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
1 komentar:
bgaimana pengaruh beban tidak seimbang terhadap arus pada belitan trafo 3 fasa
Posting Komentar